Catatan Pastoral Pemuda Katolik Komisariat Daerah Jawa Tengah di Tengah Kegelisahan Global
Dunia hari ini bergerak di atas ketegangan yang nyaris konstan. Konflik geopolitik merentang dari Ukraina, Timur Tengah, hingga kawasan Arktik. Perebutan sumber daya alam—energi, mineral langka, air, dan pangan—kian terbuka dan keras. Di tengah semua itu, wacana eskalasi perang besar, bahkan Perang Dunia III, tak lagi terdengar mustahil, melainkan mulai dibicarakan dengan nada dingin dan “rasional”.
Pemuda Katolik Komisariat Daerah Jawa Tengah memandang bahwa kegelisahan global ini tidak bisa dibaca semata sebagai konflik antarnegara. Ia adalah gejala krisis yang lebih dalam: krisis cara pandang manusia terhadap bumi dan terhadap sesamanya. Dunia bukan sedang kekurangan sumber daya, melainkan kehilangan kebijaksanaan dalam mengelolanya.
Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa krisis ekologis dan krisis sosial adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika bumi direduksi menjadi objek eksploitasi, dan manusia dilihat sebagai variabel ekonomi semata, konflik menjadi keniscayaan. Perang, pada titik ini, bukan kecelakaan sejarah, melainkan buah dari keserakahan yang dilegalkan.
Konsumerisme modern tidak lagi sekadar soal gaya hidup individu. Ia telah menjelma menjadi ideologi global yang mendorong negara-negara untuk terus bertumbuh tanpa batas, meski bumi memiliki batas yang nyata. Dalam logika ini, keamanan nasional diukur dari penguasaan sumber daya, bukan dari keberlanjutan kehidupan.
Ketika energi menipis, negara bersaing. Ketika pangan terancam, konflik mengeras. Ketika air dan mineral langka menjadi komoditas strategis, diplomasi berubah menjadi tekanan, bahkan ancaman militer. Maka tidak mengherankan jika dunia hari ini terasa bergerak menuju jurang eskalasi, bukan karena manusia terlalu banyak, tetapi karena keserakahan dilembagakan dalam kebijakan.
Pemuda Katolik Jawa Tengah menolak narasi bahwa solusi krisis dunia adalah dominasi yang lebih kuat atau persenjataan yang lebih canggih. Sejarah justru menunjukkan bahwa setiap perang besar selalu menyisakan luka kemanusiaan dan ekologis yang panjang, sementara akar masalahnya tetap tidak tersentuh.
Bumi bukan medan perebutan, melainkan rumah bersama. Ketika rumah ini dirusak, tidak ada bangsa yang benar-benar menang. Yang ada hanyalah generasi mendatang yang mewarisi kehancuran.
Sebagai orang muda Katolik, kami percaya bahwa iman tidak boleh diam di tengah dunia yang semakin terbiasa dengan kekerasan struktural. Laudato Si’ mengajak kita pada pertobatan ekologis—perubahan cara berpikir dan bertindak, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.
Pemuda Katolik Komda Jawa Tengah mengajak publik untuk kembali melihat bumi bukan sebagai sumber yang harus direbut, melainkan sebagai anugerah yang harus dijaga bersama. Jika dunia ingin keluar dari bayang-bayang kehancuran, maka jalan satu-satunya bukanlah dominasi, melainkan pertobatan—ekologis, sosial, dan kemanusiaan.